Hiburan. Manusia adalah makhluk sosial. Kita sebagai manusia membutuhkan hiburan atau suatu komunitas. Komunitas dapat berupa lingkaran pertemanan, lingkaran belajar, atau juga lingkaran orang yang memiliki kegemaran yang sama. Disaat beberapa individu menyukai hal yang sama, dapat terbentuk sebuah komunitas atau yang dapat disebut fandom.
Sejak pandemi, banyak orang yang
terpaksa harus melakukan pekerjaan dari rumah. Termasuk saya yang terpaksa melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Masyarakat terpaksa untuk
mengurung diri dirumah untuk mengurangi penyebaran virus yang terjadi pada saat
itu. Hal ini menyebabkan Masyarakat yang mulai mencari hiburan yang dapat
dinikmati dari rumah. Contohnya seperti media sosial.
Media sosial adalah media dimana Masyarakat dapat berhubungan dengan dunia luar secara online. Berkembangnya media sosial ini membuat Masyarakat semakin mudah untuk mencari hiburan. Mulai dari video lucu, film, dan berbagai hiburan lainnya. Contohnya seperti Anime dan K-Pop.
Wibu.
Suatu istilah yang normal untuk disebut pada masa sekarang. Istilah Wibu ini
mulai booming kembali sejak pandemi Covid-19 pada kisaran tahun 2021 –
2022 hingga pada tahun 2023 ini, Wibu bukanlah istilah asing di telinga kita.
Wibu sering diartikan sebagai orang yang menyukai anime, manga, atau hal-hal
lain yang berbau jejepangan. Wibu bukan hanya menyukai, banyak Wibu yang sampai
cosplay atau berpakaian seperti karakter yang disukainya.
Disisi lain lahirlah istilah K-Popers. Jika Wibu berhubungan dengan Jepang, K-Popers ini berhubungan dengan negara tetangga, yaitu Korea Selatan. K-Popers adalah sebutan untuk orang-orang yang menyukai dan mencintai music K-pop, yang adalah subgenre dari musik pop di Korea.
Anime dan K-Pop ini sangat digandrungi oleh penduduk di Indonesia, terlebih lagi remaja. Saking banyaknya, para penggemar mereka eksis di berbagai platform di Indonesia.
Jika anda sering menggunakan media sosial seperti Instagram dan Tiktok, mungkin pertengkaran antara Wibu dan K-Popers tidak asing lagi bagi anda. Pertengkaran saat K-Popers menghina Wibu dengan kalimat “Ngapain sih? Suka dengan karakter tidak nyata dua dimensi.” Dan tidak jarang juga Wibu membalas dengan kalimat seperti “Daripada suka sama plastik? Ngapain suka sama kecantikan yang palsu.” Kata “plastik” pada konteks ini mendefinisikan idola K-Pop yang sering dirumorkan melakukan operasi plastik demi mempunyai struktur wajah yang menawan.
Saya sendiri menyukai hal-hal berbau jejepangan seperti anime dan manga. Saya juga menyukai lagu-lagu K-Pop yang bervariatif dan unik. Disini saya berada dipihak netral, dimana saya menyukai keduanya, jadi saya ingin mengetahui mengapa K-Popers dan Wibu sering bertengkar.
Setelah melakukan penelitian, ada kesimpulan yang bisa saya ambil. Penyebab utama adanya pertengkaran antara Wibu dan K-Popers ini dikarenakan adanya sifat fanatisme. Disaat terjadinya perbedaan pendapat, disitulah sifat fanatisme ini muncul. Sifat fanatisme ini adalah sifat dimana suatu individu/kelompok merasa pendapatnya lebih baik dan merendahkan pendapat yang tidak sejalan dengannya. Sifat ini sering kali menyebabkan pertengkaran, contohnya pertengkaran yang sudah normal untuk ditemui dimedia sosial ataupun berbicara langsung yaitu pertengkaran antara K-Popers dan Wibu. Pertengkaran ini menyebabkan banyaknya K-Popers dan Wibu yang tidak bisa menghargai pendapat satu sama lain. Kedua pihak saling merendahkan hingga Wibu dan K-Popers sering kali dikenal sebagai fandom yang tidak bisa akur.
Sifat
ini seakan sepele, tetapi, jika sifat ini terus dipelihara, penggemar akan
mulai terbiasa untuk tidak menghargai pendapat orang lain dan tidak memiliki
sifat toleransi. Sifat fanatisme ini dapat berkembang menjadi sifat obsesi yang
bukan hanya mengganggu mental sang penggemar, sifat ini dapat mengganggu orang
yang bersangkutan.
Comments
Post a Comment