Kemenangan Saya pada Lomba LKBBI Tingkat Kecamatan

         Pada tanggal 23 September kemarin, saya berhasil memenangkan lomba menulis cerpen yang diadakan di SMPN 92 Jakarta. Lomba cerpen ini memiliki peraturan bahwa peserta harus menulis seluruh cerpennya secara tulis tangan dikertas yang disediakan panitia. Saya, yang awalnya ragu karena tidak terbiasa menulis tangan secara cepat dan lebih terbiasa mengetik menggunakan laptop sempat merasa ragu. Saya takut tidak menang. Beruntung saya mengumpulkan keberanian dan memutuskan tetap mengikuti lomba tersebut. Saya didampingi oleh guru Bahasa Indonesia saya, beliau bernama bapak Humaedi. Dengan bimbingan beliau, saya berhasil memenangkan juara 2 lomba cerpen tingkat kecamatan.


        Dalam lomba ini, saya memilih tema "Polusi Udara". Saat perlombaan berlangsung, peserta diberi waktu 2 jam untuk menuliskan cerpen buatan mereka. Peserta diberikan izin untuk membawa kerangka tulisan saat perlombaan.

        Dibawah ini adalah cerpen yang saya buat dan berhasil memenangkan juara 2 tingkat kecamatan.

         Suara mesin alat berat dari hutan di belakang desaku terdengar sangat memekakkan telinga. Belum lagi asap yang dihasilkan dari pembakaran hutan demi pembukaan lahan pertanian sawit yang baru. Tapi lagi – lagi semua orang menjalani hari seperti tidak ada hal yang terjadi.

            Ibu rumah tangga yang berbondong – bondong ke pasar, Para bapak yang Bersiap untuk pergi ke ladang dan membajak sawah, hingga Anak – anak yang berlari dengan riang menuju sekolah mereka.

            Diantara semua kesibukkan itu, aku berjalan santai menuju ke sekolah. Kehidupanku monoton, aku selalu membiarkan hidupku berjalan sesuai arus. Bagaikan sebuah botol plastic yang mengambang pasrah dialiran Sungai yang deras.

            Tapi di saat aku berpikir bahwa hari ini akan menjadi hari seperti biasanya, terjadi hal yang membuatku menyadari bahwa aku tidak bisa tinggal diam. Membuatku menyadari akan hal yang bisa aku lakukan sebagai remaja 13 tahun biasa.

 

********

 

            Setelah berpamitan dengan orang tuaku, aku berjalan santai di pematang sawah sambil mengenakan headset pemberian ayahku dari kota tempo hari. Aku mendengarkan lagu favoritku dan membesarkan volumenya supaya aku tidak mendengar suara mesin yang mengganggu. Pagi ini cerah, kesibukan di desa pun dimulai kembali.

            Hai, aku Liyu. Aku duduk dibangku SMP kelas 8. Hari ini seperti hariku biasanya, membosankan. Hidupku bagai autopilot. Sekolah – makan – pulang – makan – tidur – sekolah, sebuah siklus yang tidak pernah berubah. Aku menghirup udara yang sama setiap harinya. Bangun di tempat yang sama, menjalankan hari ku seperti copy paste dari hari sebelumnya. Yah, begitulah. Terkadang hidup bisa membosankan.

            Ditambah kondisi udara di desaku ini yang semakin parah dari hari ke hari, seperti pagi ini, langit yang keabuan dan jarak pandang yang tidak terlalu jauh itu bukan kabut, melainkan asap yang berasal dari kebakaran hutan di balik desaku ini. Entah mengapa pemerintah seperti menutup mata dengan kondisi ini. Asap yang selalu menemani keseharian kami disini seperti tak terlihat di mata pemerintah. Aku hanya terbatuk-batuk sambil mengeluh dalam hati. Harusnya aku menggunakan masker. Aku melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan wajah masam.

            “Pak! Jangan tutup gerbang dulu pak!” Aku berlari tergesa-gesa, mencegah Pak Satpam yang akan menutup gerbang sekolah. Aku bernapas lega saat menapakkan kaki di dalam gerbang.

“Lain kali bangun lebih pagi nak, hampir saja kau kukuncikan di luar.” Pak Satpam itu penepuk pundakku.

Terlihat diluar gerbang ada beberapa anak yang memohon untuk dibukakan gerbang karena datang terlambat, Aku beruntung datang tepat waktu sebelum gerbang ditutup. Nahas, mereka semua akan berakhir di lapangan untuk hukuman berlari 3 putaran karena terlambat. Aku hanya bisa mengasihani mereka, membayangkan berlari dikondisi berasap seperti ini. Aku lalu berjalan santai menuju kelas.

            Dari kejauhan, aku bisa mendengar suara dari kelasku yang berisik. Tawa anak-anak yang menggema di lorong. Aku hanya menghela napas. Masih pagi, aku sudah ingin pulang.

Saat aku menginjakkan kaki di kelas, ada temanku yang menyambutku dari mejanya.

“Liyuuuuuu!” Temanku memanggilku.

“Liyuuuu, ish jahat banget aku dicuekin.” Ia menyahut. Namanya Hira. Dia temanku yang sangat bawel sekaligus teman baikku di kelas.

“Jangan ajak aku ngomong, aku capek.” Aku berkata dengan cuek. Saat sampai di mejaku, aku langsung menggantung tas di senderan kursi dan meletakkan kepalaku di atas meja.

“Kamu kenapa sih? Pagi-pagi udah lemes banget.” Hira yang duduk di depanku membalikkan badan dan menatapku dengan wajah penasaran.

            Aku hanya menghela napas, terlalu lelah untuk menjawab. Lelah dengan semua kondisi desa ini, ditambah lagi kondisi Adikku Mira yang semakin memburuk kesehatannya. Hira yang menunggu jawabanpun menyerah untuk bertanya karena tahu kalau aku sudah malas menjawab, aku tidak akan jawab walau ditanya seribu kali pun.

            Tiba-tiba kelas jadi sunyi karena guru sudah memasuki ruang kelas, semua anak kembali ke tempat duduk masing – masing. Pelajaran dimulai

            Pelajaran membosankan. Aku yang bertopang ke lengan ku di atas meja mulai terkantuk – kantuk karena pelajaran yang membosankan.

“Liyu, apa kamu mendengarkan apa yang ibu baru saja katakan?” Ibu Guru menegurku yang hampir tertidur.

“Hah?” Aku yang kaget karena dipanggil secara tiba – tiba menatap bingung papan tulis. Aku melihat buku paket Hira yang menunjukkan halaman tentang proses terjadinya hujan.

“Hujan terjadi karena proses evaporasi air yang ada di bumi secara perlahan, menumpuk diudara dan membentuk awan hujan. Setelah air yang tertampung cukup banyak, awan itu akan menjatuhkan airnya secara rintik – rintik. Hujan terjadi. Air yang jatuh kembali ke bumi menyerap ke tanah, terjadi proses inflitrasi, Sebagian kembali ke laut, Sungai, dan danau. Terkena matahari, terjadi lagi proses evaporasi, terus menerus, itulah siklus hujan.” Aku menjawab dengan percaya diri.

            Bu Guru menghela napas sambil menepuk jidat. Dia terlihat kecewa sekaligus puas dengan jawabanku.

“Kita belum sampai situ. Tetapi bagus sekali, kau menjelaskan siklus hujan dengan singkat padat dan jelas, terima kasih. Untuk seterusnya tolong jangan tertidur, silahkan cuci muka dulu.” Bu guru menyuruhku untuk mencuci mukaku untuk menghilangkan kantuk.

            Aku bangun dari kursiku. Berjalan perlahan keluar kelas untuk mencuci muka. Toilet cukup jauh dari kelasku, sebenarnya ada toilet yang lebih dekat, tapi aku lebih memilih toilet di lantai bawah karena lebih nyaman. Entah kenapa, adik kelas lebih menjaga kebersihan toilet daripada teman seangkatan.

            Setelah mencuci muka, aku secara tidak sadar melamun keluar jendel di lorong. Dari jendela, terlihat anak – anak yang sedang olahraga. Aku memandang ke langit. Langit desaku tidak terlihat biru, hanya sedikit awan pucat dan warna keabuan di sana. Aku menghiraukan warna abu itu dan fokus melihat awan yang mengambang di langit.

            Setelah menyadari bahwa aku melamun cukup lama, aku segera berlari menuju kelas. Seperti biasa, walau belajar, suara bising tetap terdengar dari kelasku. Suara anak – anak yang riang berdiskusi dengan guru.

            Saat aku membuka pintu kelas, terlihat semua anak sedang berdiskusi tentang sesuatu yang menarik dengan Bu Guru.

“Bu, kenapa belakangan ini langit terlihat suram dan keabuan? Tapi saat saya ingat dulu ketika saya kecil warna langitnya begitu cerah dan berwarna biru.” Seorang anak bertanya. Pertanyaan yang tidak penting, tapi semua anak termasuk aku menunggu jawaban dari Bu Guru. Bu Guru terlihat berpikir beberapa saat.

"Sebetulnya kondisi udara kita tidak sedang baik-baik saja, Nak." Jawab Ibu Guru.

"Kebakaran hutan yang terjadi di belakang desa kita ini penyebabnya. Entah sampai kapan pemerintah akan peduli bahwa masyarakat desa ini terganggu." Bu Guru melanjutkan.

"Kabarnya kebakaran itu disengaja ya Bu, oleh perusahan-perusahan kelapa sawit itu?" Tiba-tiba seorang anak menyeletuk.

"Iya Bu, kata orang tua saya begitu. Katanya hutan sengaja dibakar untuk membuka lahan baru untuk perkebunan sawit. Apa betul begitu Bu?" Tanya yang lain.

            Ibu guru menarik nafas panjang.

"Entahlah, Nak. Siapa yang bisa kita salahkan atas terjadinya kebakaran hutan tersebut. Tapi semoga akan segera ada penyelesaiannya." Tambah Ibu Guru.

            Anak – anak yang menyimak hanya mengangguk-angguk, berusaha paham atas kejadian itu. Aku yang mendengar jawaban Bu Guru barusan terdiam. Aku teringat tadi pagi yang melelahkan, saat aku menyeberangi sawah dan tercium bau asap yang cukup mengganggu pernafasan.

            Aku berusaha tidak terlalu menghiraukannya walau sebenernya hatiku risau memikirkan nasib adikku Mira.

 

******

 

            Ada beberapa tugas yang belum aku kerjakan. Aku memutuskan untuk mampir perpustakaan desa untuk meminjam beberapa buku.

“Liyuuuuu, kamu mau ke perpus?” Hira menghampiriku yang sedang merapikan barang-barang.

“Iya, kamu mau ikut?” Aku bertanya.

“Mau, tapi Fahri katanya juga mau ikut, sekalian nyari bahan tugas kelompok.” Hira menunjuk seorang anak laki – laki yang berdiri di belakang mereka. Dia teman sekelasku juga.

“Hai Liyu, aku ikut ya, boleh kan?”

“Tentu, makin ramai makin seru.” Aku berkata dengan senyum.

            Kami berjalan menuju perpustakaan bersama. Sekolah kami tidak jauh dari perpustakaan desa, tapi perjalanan terasa melelahkan karena kami harus sambil menghirup udara yang berasap ini.

            Kami tidak lama di perpustakaan, hanya meminjam beberapa buku. Saat keluar lagi dari perpus, aku yang sudah kelelahan pamit pulang duluan, niatnya, kami ingin bergi ke rumah teman yang lain untuk mengerjakan tugas, tapi aku terlalu lelah, aku masih memikirkan kondisi adikku. Aku dan teman-temanku pun berpisah di jalan, berhubung arah rumahku dan tujuan mereka berbeda.

            Perjalanan pulang ke rumah hampir seperti hari-hari biasa sampai ketika Ibuku menelpon telpon genggamku dan mengabarkan bahwa beliau tidak di rumah karena adikku sesak nafas dan harus segera dilarikan ke rumah sakit. Aku yang panik segera balik arah, mencari angkot menuju rumah sakit.

            Sepanjang perjalanan di angkot pikiranku sangat tidak tenang. Bagaimana kondisi adikku? Bagaimana ibu mengatasi dirinya sendiri yang mudah panik sementara ayah sedang tugas keluar kota dan baru kembali pekan depan.

            Setelah sampai di rumah sakit, aku segera berlari menuju UGD dan mencari ibu dan adikku.

            buku terlihat sedang bicara serius dengan dokter sementara Mira adikku sedang tidur berbalut selang dari tabung oksigen. Ibu melihat kedatanganku, beliau tampak lelah. Lalu memelukku.

"Mira kenapa Bu?" Aku bertanya kepada Ibu. Tapi ibu hanya menarik nafas panjang.

"Adikku kenapa Dok?" Aku beralih bertanya kepada dokter.

“Adikmu terkena serangan asma. Asma nya sangat parah. Sepertinya diperburuk dengan kondisi udara kita yang berasap dari kebakaran hutan." Dokter menjawab dengan wajah prihatin.

"Kebakaran hutan itu harus segera dihentikan sebelum ada banyak korban. Harusnya pemerintah sadar dan bisa segera mengatasi hal itu." Tambah dokter.

            Aku kembali terdiam. Aku tidak menyadari, polusi udara yang ada saat ini mengancam nyawa orang – orang secara perlahan, bahkan mengancam nyawa adikku sendiri.

            Beruntung Mira tertolong. Dokter menyarankan untuk tidak banyak beraktivitas di luar rumah. Kalaupun harus keluar, pakai selalu masker. Sore itu setelah Mira membaik, akhirnya diperbolehkan pulang tanpa harus rawat inap.

            Pagi hari kembali lagi. Setelah sampai disekolah hal pertama yang aku lakukan adalah menceritakan kejadian kemarin kepada Hira. Kebetulan saat aku bercerita juga ada Fahri yang sedang mengerjakan tugas kelompok bersama Hira.

"Ya ampun, terus sekarang Mira tidak apa apa kan?" Hira bertanya.

"Tidak apa apa. Dia sudah sadar kemarin malam. Kondisinya terus membaik." Aku berkata. Wajah mereka langsung lebih santai setelah mengetahui kondisi Mira.

            Kami terdiam beberapa saat. Hingga Fahri memecah kesunyian.     

"Apa ya, yang bisa kita lakukan agar anak anak seperti Mira tidak perlu khawatir lagi untuk berjalan dengan bebas tanpa masker." Fahri yang tadinya riang tiba tiba menjadi muram.

"Aku jadi teringat kakekku. Beliau wafat karena serangan asma yang tidak tertolong." Fahri berkata dengan wajah sedih.

            Aku dan yang lain tertegun. Kami semua merenung. Memikirkan apa yang bisa kami lakukan agar hal seperti ini tidak menimpa orang orang lagi. Kami hanya remaja biasa, kami tidak punya uang, apa yang bisa kami lakukan? Ratusan orang meninggal tiap tahunnya karena polusi, tetapi masyarakat tetap memandang sebelah mata hal ini.

            Aku yang saling pandang dengan Hira seakan mendapat secercah ide yang terlintas dikepala.

"Bagaimana kalau kita melakukan proyek hijau? Tetapi bukan sekedar proyek hijau biasa, kita disini merilis artikel, berita, hal semacam itu di internet tentang bahaya asap dan polusi, serta wawancara dengan para pengidap asma untuk menarik empati orang. Kita juga bisa menggunakan kebun belakang sekolah yang tidak terpakai untuk menanam pohon pohon peneduh. Jika memungkinkan, kita juga bisa melakukan kampanye disekolah untuk menjalankan proyek ini bersama." Aku menjelaskan panjang lebar.

Wajah Fahri dan Hira yang menyimak langsung terlihat bersemangat. Mereka menyetujui ide ini tanpa bantahan apa pun.

            Di rumah sepulang sekolah, aku langsung menghampiri Mira. Aku bertanya apakah Mira bersedia untuk kami wawancara sebagai narasumber dalam proyek ini. Mira senang sekali dan akan membantu.

            Aku dan Mira membahas proyek yang akan kukerjakan bersama yang lain. Mira terlihat bersemangat sekaligus terharu saat mendengar proyek yang akan kulakukan. Dia sudah lama sekali sakit-sakitan. Jarang sekolah, dan hampir tidak punya teman. Tempatnya bercerita cuma aku sebagai kakaknya. Makanya hari ini dia bahagia sekali bisa berdiskusi bersama teman-temanku. Usia aku dan Mira tidak terpaut jauh. Mira saat ini duduk di kelas 6 SD. Sebentar lagi akan menjalani ujian kelulusan sekolah, tapi kondisinya yang sakit-sakitan sering menjadi penghalang bagi Mira untuk belajar dan kerja kelompok bersama teman-temannya.

            Fahri dan Hira mengabariku bahwa mereka mendapatkan izin dari pihak sekolah untuk menggunakan kebun sekolah dan mengadakan kampanye. Semua berjalan lancar.

            Setelah berdiskusi menyiapkan artikel yang akan kami rilis di situs sekolah. Aku sangat bersemangat akan proyek ini, sampai-sampai bergadang untuk mengerjakannya.

 

******

 

            Kami menyelesaikan artikel itu selama seminggu. Hasil wawancara para pengidap asma berhasil kami cantumkan dan informasi mengenai perusahaan kelapa sawit yang diduga menjadi awal mulanya terjadi polusi juga kami tulis secara lengkap. Ternyata memang sudah banyak saksi yang melihat bahwa perusahaan-perusahaan itu sengaja membakar hutan. Kampanye berjalan lancar, kami bukan hanya melakukan ajakan secara lisan, banyak selembaran yang sudah kami tempelkan di lingkungan sekolah untuk mengajak para murid lain dalam proyek hijau ini. Bibit tanaman sudah mulai kami tanam di kebun sekolah, beberapa sudah mulai berkecambah. Kamu mendokumentasikan keadaan pasien pengidap asma dan proses kami berkebun. Sudah 2 hari sejak kami merilis artikel itu di situs sekolah.

            Pagi hari, saat aku sedang berjalan di Lorong kelas sambil menguap, tiba – tiba ada suara yang teriak memanggilku sambil berlari ke arah ku.

“LIYUUUU, KAMU HARUS LIHAT INI LIYUUUU” Hira dan Fahri berteriak. Aku yang kebingungan hanya menatap mereka dengan tatapan bingung.

“Artikel kita viral! Lihat ini, views nya sudah mencapai 3 juta lebih. Bahkan ada yang membahasnya di media sosial!” Fahri berkata dengan suara riang.

            Aku yang masih setengah sadar karena masih mengantuk hanya menganga. Apa yang aku dengar benar barusan?

            Aku mengambil telpon genggam dari tangan Fahri dan melihatnya dalam – dalam. Benar – benar mencapai 3 juta penonton dalam waktu 2 x 24 jam. Aku yang senang melompat – lompat kesana kemari sambil berteriak.

“Astaga, kita berhasil! Kita sungguh berhasil!” Aku bersorak riang memeluk teman – teman. Saat kami sedang sibuk bersorak riang, tiba – tiba kepala sekolah menghampiri kami bersama Bu Guru.

“Liyu, Hira, Fahri. Bapak dengan artikel yang kalian rilis mencapai 3 juta penonton. Bapak ucapkan selamat.” Pak kepala sekolah menyelamati kami. Kami semua tersenyum bangga.

            Siapa yang sangka, proyek sederhana dari desa kecil seperti desa kami, dan dikerjakan oleh anak - anak seusia kami bisa sampai viral ke seluruh penjuru negeri.

“Karena itu, kami ingin kalian melakukan speech pada festival mendatang. Apakah kalian sanggup?” Bapak Kepala Sekolah menambahkan.

            Kami semua terdiam saling tatap.

“Kami pak? Melakukan speech? Difestival?” Fahri bertanya tidak percaya.

 “Iya, kalian juga silahkan mengundang pasien – pasien yang mengidap asma. Kami mengubah tema festival ini menjadi Festival Kebun Hijau demi proyek ini. Pihak sekolah menyadari bahwa sekolah juga harus berkontribusi pada masalah polusi ini. Kami yang abai akhirnya tersadar, berkat kalian. Terima kasih.” Pak Kepala sekolah menepuk pundah kami satu per satu.

"Dan semoga pemerintah juga akan sadar tentang hal ini dan segera mengambil tindakan." Tambahnya lagi

            Aku dan yang lainnya akhirnya mengangguk. Kami sangat senang.

 

******

 

            Hari festival tiba. Festival ini disiarkan secara langsung di situs sekolah. Banyak orang menonton. Kami mengundang pasien – pasien pengidap asma yang kami wawancarai serta banyak pasien lain yang berada diluar proyek ini.

            Artikel kami yang viral mengundang banyak wartawan mengunjungi sekolah kami. Kamera ada dimana – mana. Bukan hanya di situs sekolah, festival ini juga disiarkan oleh para wartawan ke penjuru negeri.

            Aku yang akan melakukan speech. Aku sangat gugup. Pembukaan akan segera dimulai. Aku menaiki panggung, mencoba mic milikku untuk memastikannya berfungsi. Aku menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Halo semua. Kalian pasti disini untuk menikmati festival ini. Sudah lama udara kita tercemar oleh asap pembakaran hutan yang dilakukan untuk kepentingan industri. Tanpa kita sadari, langit biru indah yang kita miliki ini berubah menjadi langit keabuan yang tidak sedap dihirup. Menjadi sumber dari banyak penyakit yang muncul. Kami disini, ingin menunjukkan bahwa masih ada harapan. Masih ada harapan untuk kita memperbaiki udara yang telah mulai rusak ini. Bahwa kita semua disini bisa berkontribusi dalam proyek seperti ini. Kami ada disini sebagai perwakilan dari beberapa pasien pengidap asma dan penyakit lainnya yang menderita akibat dari polusi ini. Kami disini ingin membuat kita semua menyadari betala pentingnya langkah ini untuk kepentingan bersama. Maka dari itu, Festival Kebun Hijau, saya buka!” Aku mengakhiri pidatoku. Semua orang yang hadir bertepuk tangan sangat riuh. Aku bisa melihat adikku Mira di antara penonton lain yang menyorakiku dengan semangat. Aku tersenyum.

            Aku menyadari, bahwa bahkan remaja biasa sepertiku bisa membuat Langkah kecil dengan bantuan teman – teman. Umurku bukan hambatan untukku melakukan hal besar. Karena kondisi Mira adikku membuatku tersadar, pohon kelapa yang kokoh dan berguna untuk semua orang berawal dari benih kecil yang bertumbuh secara perlahan menjadi batang tebal yang kokoh. Bahwa perubahan besar, hal besar, semua itu berawal dari langkah kecil yang bisa dianggap tidak berarti. Tapi, benih yang kecil jika dipupuk secara teratur, akan tumbuh menjadi pohon kokoh yang berguna juga nantinya.


        Cerpen ini masih memerlukan banyak perbaikan, saya masih harus belajar. Tetapi, saya bersyukur bahwa cerpen yang saya buat ini dapat memenangkan lomba LKBBI tingkat kecamatan.

        Sebenarnya, lomba ini berjenjang. Juara 1, 2, dan 3 tingkat kecamatan dapat maju ke tingkat selanjutnya. Tetapi sayang, tanggal lomba tingkat berikutnya berpapasan dengan acara yang saya tidak bisa lewati. Dengan berat hati saya terpaksa mengundurkan diri dan tidak melanjutkan perlombaan. Tentu ini sangat disayangkan, tetapi, saya bersyukur dengan apa yang saya raih saat ini dan akan terus berusaha lebih baik ke depannya.

Comments